Kamis, 03 Agustus 2017

LAPORAN KUNJUNGAN MUSEUM

KATA PENGANTAR



  Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa , karena dengan rahmat dan karunia-Nya laporan hasil (kunjungan museum) dapat kami selesaikan tanpa ada halangan suatu apapun .

 Laporan ini kami buat atas perintah dari Bapak Ibu Guru . Berdasarkan kegiatan kunjungan museum yang telah dilaksanakan . Laporan ini dibuat agar kami lebih mengetahui tantang museum – museum di Yogyakarta .

 Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca . Meskipun , mungkin kami masih banyak kekurangan didalam pengerjaan laporan ini .




                                                                 



Tempel , 23 Agustus 2015,



                                                                          

 Penyusun.



DAFTAR ISI
Ø Kata Pengantar…………………………………………………….…….……...1
Ø Daftar Isi…………………………………………………………….…………...…2
Ø BAB 1 PENDAHULUAN:...………………………………………….…..……3
1.    Tujuan Pembelajaran……………………………………...………..3
2.    Manfaat Pembelajaran……………………….……………….……3
Ø BAB 2 ISI:…………………………………………………………………........….4
1.    Museum Soeharto…………………………………………...….……4
2.    Museum Keraton Yogyakarta……………...……….............…5
3.    Masjid Agung Yogyakarta…………………………….............…6
4.    Museum Sono Budoyo…………………………..........….….…...8
5.    Museum Benteng Vredeburg…………….…........….…..…….9
Ø BAB 3 PENUTUP:…………………………………………………...........…11
1.    Kesimpulan…………………………………………….…….........….11
2.    Saran…………………………………………………........……….……11
Ø Daftar Pustaka……………………………………………..........…………..12























BAB 1 PENDAHULUAN


Ø Tujuan :
1.    Melanjutkan MOPD (Masa Oriantasi Peserta Didik Baru).
2.    Menambah pengetahuan tentang sejarah bangsa Indonesia.
3.    Lebih mengetahui tentang museum- museum yang ada di Yogyakarta.
4.    Menyelesaikan tugas dari Bapak Ibu Guru.
Ø Manfaat :
1.    Pengetahuan tentang sejarah bangsa Indonesia bertambah.
2.    Siswa bisa lebih mengerti tentang cara membuat laporan.
3.    Wawasan siswa kelas VII bertambah luas.
























BAB 2 ISI
1. Museum Soeharto.
                               

    Memorial Jenderal Besar HM Soeharto yang lebih di kenal masyarakat sebagai Museum Soeharto. Museum yang terletak didesa Kemusuk, Argomulyo, Sedayu Bantul saat liburan kali ini, banyak dikunjungi wisatawan yang ingin melihat-lihat peninggalan beliau yang berada dimuseum. Banyak bus-bus besar yang setiap harinya melewati jl. Pedes-Godean yang menjadi jalur utama ketika akan mengunjungi museum. Pengunjung yang datang banyak dari kalangan pelajar dan mahasiswa ada juga pejabat dari Jakarta. Museum ini didirikan untuk mengenang jasa dan pegabdian Pak Harto semasa hidupnya untuk bangsa Indonesia. Di museum ini juga di pajang berbagai prestasi beliau semasa menjabat sebagao Presiden RI selama 32 tahun.
    
     Museum ini dibangun dan diresmikan oleh Bapak H. Probosutedjo (adik tiri Pak Harto) dan anak pertama Pak Harto, Siri Hardiyanti Rukmana. Ramainya kunjungan ke museum karena liburan natal dan tahun baru kali ini dibarengi dengan liburan anak-anak sekolah. Lokasi museum tidak sulit untuk ditemukan, lokasi museum bisa diakses melalui beberapa jalan utama seperti jalan Wates dan jalan Godean. Sejak kedatangan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beserta ibu Negara Ani Yudhoyono pada tanggal 18 Oktober 2013, Museum Soeharto makin banyak dikunjungi wisatawan domestik.Museum Soeharto dibangun diatas tanah kelahiran Pak Harto. Museum Soeharto diresmikan pada 8 Juni 2013.

      Peresmian museum bertepatan dengan hari ulang tahun Soeharto yang ke- 92. Pada waktu itu peresmian dihadiri oleh anak-anak Soeharto seperti Tommy Soeharto dan Titiek Soeharto. Museum seluas 3.620 meter persegi ini terdiri atas 4 bangunan yaitu jogjo, rumah 2 eyang Soeharto (Notosudiro dan Atmosudiro), serta petilasan tempat lahir Soeharto. Saat liburan kali ini saya juga sempat mengunjungi museum ini. Pagar dan gerbangnya di dominasi warna putih yang terlihat megah. Di pintu masuknya terlihat jelas patung Soeharto menggunakan seragam perwira militer setinggi 2 meter dengan latar belakang bangunan joglo yang merupakan bangunan utama museum.

      Sebelum masuk kedalam museum pengunjung wajib mengisi buku daftar kunjungan. Kesan pertama melihat bangunan joglo museum ini terlihat tradisional ternyata setelah masuk kedalam kesan tradisional tersebut perlahan hilang. Museum memorial ini cukup modern kaarena sebagian besar sudah menggunakan peralatan elektronik. Pintu masuk museum sudah menggunakan sensor otomatis, gambar-gambar yang ditampilkan sebagian besar menggunakan projecktor, menggunakan buku-buku elektronik melalui media komputer touchscreen. Disamping barat pintu gerbang terdapat relief-relief diorama, relief sa-sa-sa da nada juga stimulasi kehidupan masa kecil HM Soeharto. Setelah masuk museum yang terlihat adalah foto-foto Soeharto beserta sejarah masa pemerintahan Soeharto yang mencapai 32 tahun tersebut. Di bangunan joglo diputar video beserta informasi yang bisa dilihat dan dibaca dalam bentuk computer touchscreen. Bangunan joglo biasanya digunakan untuk istirahat sembari menikmati video-video Soeharto.

     Di lingkungan museum juga terdapat sumur tempat Pak Harto pertama kali mandi ketika dilahirkan. Konon katanya sumur tersebut usianya telah 150 tahun dan airnya tidak pernah kering. Di dalam diorama Museum Soeharto ada satu tempat yang unik yaitu sebuah instalasi roll film yang berisi dokumentasi visual gerak tentang perjuangan jenderal Soeharto pada masanya. Di tempat itu jadi tempat favorit wisatawan untuk foto-foto, mungkin karena bentuknya yang unik. Selain itu kita di suguhi diaroma perjuangan Pak Harto ketika melakukan koordinasi dengan Pangsar Jenderal Soedirman ketika SO 1 Maret 1949. Di dalam diorama ini kita juga bisa melihat foto-foto ketika Pak Harto menerima penghargaan dalam melakukan swasembada pangan.

2. Museum Keraton Yogyakarta.
                                      Description: Hasil gambar untuk museum keraton yogyakarta
    Keraton Yogyakarta (Jogja) atau sering disebut dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang mempunyai luas ±14.000 m² terletak di jantung provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY), Indonesia. Karena tempatnya berada di tengah-tengah Jogja, dimana ketika di ambil garis lurus antara Gunung Merapi dan Laut Kidul, maka Keraton menjadi pusat dari keduanya. Keraton atau Kraton Jogja merupakan kerajaan terakhir dari semua kerajaan yang pernah berjaya di tanah jawa. Ketika kerajaan hindu-budha berakhir kemudian di teruskan dengan kerajaan islam pertama di Demak, lalu berdiri kerajaan yang lain seperti Mataram islam yang di dirikan oleh Sultan Agung lalu berjalan dan muncul Keraton Jogja yang didirikan oleh Sultan Hamengku Bowono I. Hingga sekarang, keraton Jogja masih menyimpan kebudayaan yang sangat mengagumkan.

   Melihat sudut Keraton yang lain seperti Kedhaton, dimana kedhaton ini merupakan tempat bertemunya Raja dengan semua pemangku Keraton. Dengan suasana bangunan joglo yang indah dengan beberapa ornamen ala jawa arab yang menghiasi di setiap tembok dan pilar, juga berbagai macam tanaman rindang menambah suasana sakral jawa lebih sejuk dan menarik. Pilar-pilar yang berjajar sedemikian rupa menambah gagah dan kuatnya Keraton Jogja waktu itu. Beberapa bangunan taman juga menghiasi setiap sudut komplek Kedhaton Keraton Jogja. Ada yang menarik dikomplek Kedhaton tersebut, ketika Petualang masuk pintu area Karaton maka akan selalu bertemu dengan para penjaga (pekerja khusus) Keraton atau yang biasa di sebut dengan Abdi Dalem.

   Selain Kedhaton , juga terdapat:
·         Bangsal Kencana
·         Regol Danap Ratapa (pintu gerbang)
·         Sri Manganti
·         Regol Srimanganti (pintu gerbang)
·         Bangsal Poncowati (dengan halaman Kemandungan),dll.
Ditengah – tengah halaman Kemandungan kidul berdirilah sebuah bangsal , namanya Bangsal Kemandungan . Bangsal ini bekas pesanggrahan Sri Sultan Hamengkubuwono I di desa Pandak Karangnangka waktu Perang Giyanti (1746 – 1755) . Jalan besar membujur lurus ke utara , sepanjang jalan di tanami pohon asem & tanjung . Masuk melalui Plengkung Gading ke daerah kompleks keraton yang sesungguhnya . Di pinggir alun – alun selatan , kita lihat 2 pohon beringin, diberi nama “WOK” . keliling alun – alun ditanami pohon – pohon pakel & kuweni. Alun – alun diberi pagar tembok kelilingnya , terletak didalam kompleks dalam keraton. Terlihat agak jauh Plengkung Nirbaya (Gading). Kedua beringin ditengah – tengah bernama Supit – Urang. Pagarnya mempunyai “design” busur / sifat pemuda – pemudi. Sampailah sekarang diakhir tujuan kita , tugu symbol dari tempat Alif Mutakalliman Wachid, badan, ilafi, bersatunya Kawula & Gusti, bersatunya Hamba & Tuhannya. La Chaula Wala Chuata illabillahil ‘alihil alim = tiad kekuasaan, selain dari Tuhan yang Maha Kuasa. Kemudian Sri Sultan memberi isyarat memberangkatkan prajurit – prajurit keraton , terdiri dari 9 peleton. Ini untuk memperingati jasa – jasa Wali Sanga ,9 orang penyebar agama islam di Jawa. Gedong tinggi di sebelah selatan adalah Gedong Purwaretna. Di atas Regol ada sebuah bulatan / dengku mengelilingi jagad / buwana. Mengelilingi dalam Bahasa Jawanya : Hamengku. Keduanya dapat dibaca : Hamengku Buwana, nama Sri Sultan. 2 ekor binatang dibawahnya bernama Slira. Slira adalah 8. Semua berarti Hamengku Buwana VIII.

3. Masjid Agung Yogyakarta .
Description: Hasil gambar untuk masjid agung yogyakarta
    Masjid Agung Keraton Yogyakarta adalah bangunan masjid yang didirikan di pusat (ibukota) kerajaan. Bangunan ini didirikan semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I. Perencanaan ruang kota Yogyakarta konon didasarkan pada konsep taqwa. Oleh karenanya, komposisi ruang luarnya dibentuk dengan batas-batas berupa penempatan lima masjid kasultanan di empat buah mata angin dengan Masjid Agung sebagai pusatnya. Sedangkan komposisi di dalam menempatkan Tugu (Tugu Pal Putih) - Panggung Krapyak sebagai elemen utama inti ruang. Komposisi ini menempatkan Tugu Pal Putih-Keraton-Panggung Krapyak dalam satu poros.

    Bangunan Masjid Agung Keraton Yogyakarta berada di areal seluas kurang lebih 13.000 meter persegi. Areal tersebut dibatasi oleh pagar tembok keliling. Pembangunan masjid itu sendiri dilakukan setelah 16 tahun Keraton Yogyakarta berdiri. Pendirian masjid itu sendiri atas prakarsa dari Kiai Pengulu Faqih Ibrahim Dipaningrat yang pelaksanaannya ditangani oleh Tumenggung Wiryakusuma, seorang arsitek keraton. Pembangunan masjid dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pembangunan bangunan utama masjid. Tahap kedua adalah pembangunan serambi masjid. Setelah itu dilakukan penambahan-penambahan bangunan lainnya.

    Bangunan Masjid Agung terdiri dari beberapa ruang, yaitu halaman masjid, serambi masjid, dan ruang utama masjid. Halaman masjid terdiri atas halaman depan dan halaman belakang. Halaman masjid merupakan ruangan terbuka yang terletak di bagian luar bangunan utama dan serambi masjid. Halaman ini dibatasi oleh tembok keliling. Sedang halaman belakang masjid merupakan makam Nyi Achmad Dahlan dan beberapa makam lainnya..

   Ada lima buah pintu yang dapat digunakan untuk memasuki halaman masjid. Dua buah pintu terletak di sisi utara dan selatan. Sedangkan pada sisi timur terdapat sebuah pintu yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama. Bentuk pintu gerbang yang sekrang ini adalah semar tinandu dengan atap limasan. Pada kedua sisi gapura ini terdapat dua bangunan yang disebut bangsal prajurit. Pintu gerbang dihubungkan dengan sebuah jalan yang membelah halaman depan menjadi dua bagian. Jalan ini diapit dua buah bangunan yang dinamakan pagongan.

    Bangunan serambi masjid dipisahkan dari halaman masjid. Bangunan pemisahan itu berupa pagar tembok keliling dengan lima buah pintu masuk. Pada sisi timur terdapat tiga buah pintu dan satu buah pada sisi utara serta selatan. Bangunan serambi ini juga dikelilingi dengan sebuah parit kecil (kolam) pada sisi utara, timur, dan selatan. Tempat/bangunan yang digunakan untuk berwudhu terdapat di sebelah utara dan selatan serambi.

   Bangunan serambi masjid berbentuk denah empat persegi panjang. Serambi didirikan di atas batur setinggi satu meter. Pada serambi ini terdapat 24 tiang berumpak batu yang berbentuk padma. Umpak batu tersebut berpola hias motif pinggir awan yang dipahatkan. Atap serambi masjid berbentuk limasan.

   Pada sebelah barat serambi ini berdiri bangunan Masjid Agung yang merupakan ruang utama salat. Ruangan masjid berbentuk denah bujur sangkar. Bangunan ,asjid didirikan di atas batur setinggi 1,7 meter. Pada sisi utara masjid terdapat gedung pengajian, kamar mandi, dan WC untuk pria. Sedang yang diperuntukkan bagi wanita berada pada sisi selatan. Mihrab berada pada dinding sebelah barat. Pada dekat mihrab terdapat sebuah mimbar dan maksurah, masing-masing terletak di sebelah utara dan selatan mihrab.

   Atap tajug bertumpang tiga menutupi ruang utama Masjid Agung ini. Pada puncak atap terdapat mustaka. Ketiga atap masjid ini didukung oleh dinding tembok pada keempat sisi ruangan dan tiang berjumlah 36 buah. Tiang-tiang tersebut berpenampang bulat tanpa hiasan (polos). Ketiga puluh enam tiang tersebut terdiri atas empat buah saka guru, 12 saka rawa, dan 20 saka emper.







4. Museum Sono Budoyo.
   
   Museum Sonobudoyo merupakan museum terlengkap di Indonesia setelah Museum Nasional di Jakarta yang memuat koleksi kesenian dan kebudayaan. Museum Sonobudoyo awalnya merupakan yayasan yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok yang bernama Java Institut yang berdiri tahun 1919 di Surakarta. Selanjutnya pada tahun 1924 berhasil mendirikan museum di Yogyakarta yang diberi nama Sonobudoyo. Pada awalnya museum ini mempunyai koleksi puluhan ribu artefak bersejarah.

   Selanjutnya pada tanggal 6 November 1935, Museum Sonobudoyo diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang ditandai dengan candra sengkala “ Kayu Kinayang Ing Brahmana Budha “. Museum ini di kelola oleh Kantor Sosial Bagian Pengajaran pada masa pendudukan Jepang. Selanjutnya setelah kemerdekaan museum Sonobudoyo ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi DIY. Pada tahun 1974 Museum Sonobudoyo ini sempat diserahkan kepada Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian setelah adanya kebijaksanaan otonomi daerah, pengelolaan museum ini kembali diserahkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta.

   Museum Sonobudoyo sekarang terbagi menjadi dua unit yang letaknya terpisah. Unit pertama museum ini terletak di dekat alun-alun utara keraton Yogyakarta ini memiliki bentuk bangunan rumah joglo bergaya Masjid Keraton Kasepuhan Cirebon yang dilengkapi dengan pendapa kecil dan besar, gandok kiri dan kanan Sedangkan Museum Sonobudoyo unit kedua terletak di daerah Wijilan.

    Museum Sonobudoyo merupakan museum yang bersifat umum karena memuat sekiyar 10 jenis koleksi museum yang dikategorikan sebagai berikut : Teknologi, Geologi, Seni Rupa, Biologi, Keramologi, Etnografi, Filologika, Arkeologi, Numismatika dan Historika.

  Senjata Keris merupakan salah satu jenis koleksi yang dimiliki oleh museum sonobudoyo ini. Tercatat sekitar 1200 buah keris yang menjadi koleksi dari museum ini yang berasal dari berbagai penjuru daerah nusantara. Keris –keris yang berada di museum ini mempunyai bentuk dan tipe yang bermacam-macam. Misalnya keris-keris Jawa yang berbentuk keris luk 7, keris luk 11, keris luk 13, keris lurus dan keris dengan berbagai macam pamor. Seanjutnya keris dari luar Jawa berasal dari Aceh yang berupa keris rencong, Mandau dari Kalimantan, keris dari Madura dan Bali serta keris dari Sulawesi. Museum ini juga mempunyai koleksi sebuah bahan baku pembuatan keris sekitar tahun 700 Masehi yang benama Wesi Buddha.

   Terdapat juga koleksi yang berupa benda-benda peninggalan dari masa prasejarah sampai dengan masa datangnya Islam di Indonesia. Barang-barang koleksi tersebut seperti kapak batu, teracota, kubur batu, wayang, topeng, kain batik dan lain-lain. Terdapat juga koleksi unggulan yang berupa topeng emas Puspa Sarira yang terbuat dari bahan emas yang merupakan perwujudan dari Gayatri.

   Museum Sonobudoyo ini juga menyimpan naskah dan buku-buku yang berhubungan dengan kebudayaan yang seringkali museum ini digunakan untuk tempat penelitian dan mencari referensi.

  Museum Sonobudoyo terbagi menjadi 2 unit, Unit pertama terletak di Jl.Trikora no.6 Yogyakarta dan Unit dua terletak di Ndalem Condrokiranan Wijilan Yogyakarta.

   Museum Sonobudoyo terletak di tengah kota yang dapat diakses dengan mudah dari segala arah. Semua alat transportasi dapat dipakai untuk mencapai tempat ini seperti : kendaraan pribadi, bus trans Jogja, bus kota, taxi, becak, andong dan sepeda. Anda juga dapat mencapai tempat ini dengan berjalan kaki bila dari kawasan Malioboro.

5. Museum Benteng Vredeburg.
                        Description: Hasil gambar untuk museum benteng vredeburg
Benteng yang dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Dengan parit yang mengelilinginya, benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara pengawas di keempat sudutnya dan kubu yang memungkinkan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga dan melepaskan tembakan jika diperlukan.

Pada dasar meriam di kubu bagian selatan, Kraton Yogyakarta dan beberapa bangunan bersejarah lainnya termasuk kepadatan lalulintas di sekitarnya terlihat dengan jelas. Dibangun pada tahun 1765 oleh Belanda, Museum dengan luas kurang lebih 2100 meter persegi  ini mempunyai beberapa koleksi antara lain:

Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya.
Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru.
Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.SEJARAH
Museum Benteng Yogyakarta, semula bernama "Benteng Rustenburg" yang mempunyai arti "Benteng Peristirahatan" , dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton. Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765 - 1788 bangunan disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi "Benteng Vredeburg" yang mempunyai arti "Benteng Perdamaian".

Secara historis bangunan ini sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi yaitu pada tahun 1760 - 1830 berfungsi sebagai benteng pertahanan, pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 - 1977 berfungsi sebagai markas militer RI.

Setelah tahun 1977 pihak Hankam mengembalikan kepada pemerintah. Oleh pemerintah melalui Mendikbud yang saat itu dijabat Bapak Daoed Yoesoep atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik, ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara pada tanggal 9 Agustus 1980.

Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23 November 1992 resmi menjadi "Museum Khusus Perjuangan Nasional" dengan nama "Museum Benteng Yogyakarta".

Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan dilestarikan. Dalam pemugaran pada bentuk luar masih tetap dipertahankan, sedang pada bentuk bagian dalamnya dipugar dan disesuaikan dengan fungsinya yang baru sebagai ruang museum.



PENUTUP LAPORAN

BAB 3 PENUTUP


o   Kesimpulan :
1.    Kita harus mengunjungi segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah bangsa Indonesia.
2.    Kita harus mencari tahu tentang sejarah tempat yang kita kunjungi.
3.    Dan kita harus menghargai para pendiri / pemilik tempat tersebut.
o   Saran :
1.    Sebaiknya kalau di museum kita tidak boleh bicara kotor / yang kurang sopan.
2.    Seharusnya kita tidak boleh berpencar – pencar.
3.    Dan sebaiknya bus yang kita naiki ber-AC.            












DAFTAR PUSTAKA

Sumber laporan :
#Internet :

#Buku Sejarah Singkat Keraton Yogyakarta.






LAPORAN KUNJUNGAN MUSEUM

KATA PENGANTAR   Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa , karena dengan rahmat dan karunia-Nya laporan hasil (kun...